Minggu, 16 Maret 2008

Penulisan Kata Baku Bahasa Indonesia pada Karya Tulis Ilmiah

Penulisan Kata Baku Bahasa Indonesia pada Karya Tulis Ilmiah
Siswa Kelas 3 SMA Parisada Perhotelan Amlapura

Ni Luh Partami


Abstrak
Ragam baku dibedakan atas ragam baku tulis dan ragam baku lisan. Ragam baku tulis adalah ragam yang dipakai dengan resmi dalam buku-buku pelajaran atau buku-buku ilmiah lainnya, termasuk karya tulis ilmiah. Dengan demikian, karya tulis ilmiah siswa Kelas 3 SMA Parisada Perhotelan Amlapura yang dijadikan sumber data diasumsikan juga memakai ragam tulis baku. Setelah dicermati, tampaknya masih ditemukan kesalahan penulisan kata dalam sumber data, seperti penulisan awalan (di pukul), penulisan kata depan (kemana-mana), dan penulisan partikel pun (desapun). Oleh karena itu, pada kesempatan ini disajikan tulisan dengan topik kesalahan penulisan kata bahasa Indonesia.

Kata kunci: kata baku, kata tidak baku


1. Pendahuluan
Ragam baku adalah ragam yang dilembagakan dan diakui oleh sebagian besar warga masyarakat pemakainya sebagai ragam resmi dan sebagai kerangka rujukan norma bahasa dalam penggunaannya (Arifin dan S. Amran Tasai, 2006: 22). Ragam baku memiliki sifat-sifat, antara lain (1) kemantapan dinamis, (2) cendekia, dan (3) seragam.
Kemantapan dinamis artinya sesuai dengan kaidah bahasa dan tidak kaku. Frasa seperti lepas landas, lepas pantai, dan lepas tangan merupakan contoh kemantapan kaidah bahasa, sedangkan kata langganan yang memiliki makna ganda ‘orang yang berlangganan’ dan ‘toko tempat langganan’ merupakan contoh kata yang dinamis.
Ragam baku bersifat cendekia artinya ragam baku dipakai pada tempat-tempat resmi. Pemakai ragam baku adalah kaum terpelajar pada situasi resmi. Selain itu, ragam baku juga bersifat seragam. Pada hakikatnya, proses pembakuan bahasa ialah proses penyeragaman bahasa.
Ragam baku dibedakan atas ragam baku tulis dan ragam baku lisan. Ragam baku tulis adalah ragam yang dipakai dengan resmi dalam buku-buku pelajaran atau buku-buku ilmiah lainnya, termasuk karya tulis ilmiah. Dengan demikian, karya tulis ilmiah siswa Kelas 3 SMA Parisada Perhotelan Amlapura yang dijadikan sumber data seharusnya juga memakai ragam tulis baku.
Setelah dicermati, tampaknya masih ditemukan kesalahan penulisan kata dalam sumber data, seperti penulisan awalan (di pukul, seharusnya dipukul), penulisan kata depan (kemana-mana, seharusnya ke mana-mana), dan penulisan partikel pun (desapun, seharusnya desa pun). Oleh karena itu, pada kesempatan ini disajikan tulisan dengan topik kesalahan penulisan kata bahasa Indonesia.

2. Penulisan Kata Baku Bahasa Indonesia
Penulisan kata baku bahasa Indonesia yang diamati pada karya tulis siswa Kelas 3 SMA Perhotelan Parisada Amlapura berkaitan dengan penulisan (a) kata serapan, (b) gabungan kata, (c) awalan, (d) kata depan (preposisi), (e) singkatan, (f) kata ulang, dan (g) kata baku. Berikut deskripsinya.

2.1 Penulisan Kata Serapan
Dalam data ditemukan penulisan kata serapan yang tidak sesuai dengan kaidah.
(1) Pada jaman global seperti sekarang ini kita dituntut aktif mengikuti perkembangan teknologi.

(2) Orang tuanya tidak mengijinkannya bersekolah ke luar daerah.

(3) Meskipun tidak berijasah SMA, aku akan tetap ikut berkompetisi.


Kaidah penulisan kata yang masih banyak dilanggar adalah penulisan unsur serapan seperti jaman (1), ijin (2), dan ijasah (3). Penulisan kata jaman (1), ijin (2), dan ijasah (3) masih sering dikacaukan penulisannya. Kata jaman, ijin, dan ijasah termasuk kata serapan yang sumbernya ditulis dengan menggunakan huruf z, bukan j. Untuk itu, kata-kata serapan jaman, ijin, dan ijasah pada (1—3) tetap ditulis sesuai dengan sumber aslinya tanpa perlu disesuaikan ejaannya karena huruf z sudah termasuk dalam alfabet bahasa Indonesia. Perbaikannnya dapat dicermati pada (1a)—(3a).
(1a) Pada zaman global seperti sekarang ini kita dituntut aktif mengikuti perkembangan teknologi.

(2a) Orang tuanya tidak mengizinkannya bersekolah ke luar daerah.

(3a) Meskipun tidak berijazah SMA, aku akan tetap ikut berkompetisi.




2.2 Penulisan Gabungan Kata

Dalam bahasa Indonesia unsur-unsur pembentuk gabungan kata ada yang mandiri sebagai kata dan ada pula yang berupa bentuk terikat. Hal itu menyebabkan perlakuan penulisan kedua gabungan kata itu berbeda.
Dalam sumber data ditemukan penulisan gabungan kata yang tidak sesuai dengan kaidah seperti data berikut.
(1) Di era globalisasi ini banyak sekali remaja yang menyalah gunakan obat-obatan terlarang.

(2) Di kalangan remaja banyak terjadi penyalah gunaan obat, misalnya narkoba.

(3)Dengan ke ingin tahuannya itu ….

(4) Kalau masalah itu tidak di tindak lanjuti, generasi muda akan hancur.



Pada contoh (1)—(4) terdapat penulisan gabungan kata yang mendapat awalan dan akhiran, yang penulisannya tidak sesuai dengan kaidah, yaitu menyalah gunakan (1), penyalah gunaan (2), ke ingin tahuannya (3), dan di tindak lanjuti (4). Menurut kaidah, gabungan kata yang unsur-unsurnya mandiri dituliskan terpisah. Misalnya, gabungan kata pada (1)—(4) memiliki unsur-unsur mandiri, yaitu salah guna (1)—(2), ingin tahu (3), dan tindak lanjut (4). Akan tetapi, jika gabungan kata yang berupa unsur-unsur mandiri itu mendapat awalan dan akhiran sekaligus, penulisannya diserangkaikan. Dengan demikian, penulisan gabungan kata (1)—(4) tidak sesuai dengan kaidah. Perbaikannya dapat dicermati pada (1a)—(4a).

(1a) Di era globalisasi ini banyak sekali remaja yang menyalahgunakan obat-obatan terlarang.

(2a) Di kalangan remaja banyak terjadi penyalahgunaan obat, misalnya narkoba.

(3a) Dengan keingintahuannya itu ….

(4a) Kalau masalah itu tidak ditindaklanjuti, generasi muda akan hancur.


Sementara itu, apabila gabungan kata mendapat awalan saja atau akhiran saja, unsur-unsurnya dituliskan terpisah.
Contoh:
di- + beri tahu diberi tahu
beri tahu + -kan beri tahukan

ber- + garis bawah bergaris bawah
garis bawah + -i garis bawahi


2.3 Penulisan Awalan di-
Dalam karya tulis yang dijadikan sumber data cukup banyak ditemukan penulisan awalan yang tidak sesuai dengan kaidah, khususnya awalan di-. Data berikut memperlihatkan hal itu.
(1) Narkoba sudah semakin marak di gunakan oleh generasi muda.

(2) Mereka pantas di kutuk dan di hukum berat.

(3) Adapun cara yang di tempuh oleh pemerintah untuk menanggulangi narkoba adalah ….

(4) Zaman sekarang ini sifat remaja memang susah di tebak.

(5) Narkoba tidak hanya di konsumsi oleh remaja kota ….


Pada data (1)—(5) tampak penulisan awalan di- ditulis terpisah dengan kata yang mengikutinya. Penulisan seperti itu muncul kemungkinan karena siswa tidak memahami perbedaan antara kata depan dan awalan.
Menurut kaidah, awalan seperti di- dan ke- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya. Dengan demikian, penulisan awalan di- pada data (1)—(5) tidak sesuai dengan kaidah. Penulisan yang benar dapat dicermati pada (1a)—(5a).
(1a) Narkoba sudah semakin marak digunakan oleh generasi muda.

(2a) Mereka pantas dikutuk dan dihukum berat.

(3a) Adapun cara yang ditempuh oleh pemerintah untuk menanggulangi narkoba adalah ….

(4a) Zaman sekarang ini sifat remaja memang susah ditebak.

(5a) Narkoba tidak hanya dikonsumsi oleh remaja kota ….

2.4 Penulisan Kata Depan di dan ke
Dalam bahasa Indonesia terdapat kata depan di, ke, dan dari. Menurut kaidah ejaan, kata depan dituliskan terpisah dari kata yang mengikutinya, kecuali di dalam gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata, seperti kepada dan daripada. Akan tetapi, dalam kenyataannya masih banyak ditemukan kesalahan penulisan kata depan, seperti dapat dicermati pada data berikut.
(1) Narkoba juga merupakan obat yang mudah dipakai dan dibawa kemana-mana.
(2) Pada era sekarang ini dimana-mana banyak ditemukan jenis-jenis narkoba.

(3) Kita semua merasakan bahwa kemiskinan dinegara kita semakin merajalela.

(4) Mereka harus memilih salah satu diantara dua pilihan.

(5) Dalam pergaulan bebas tidak tertutup kemungkinan kita akan terjerumus kedalamnya.

(6) Mereka yang sudah kecanduan akan dibawa ketempat rehabilitasi.


Pada data (1)—(6) terdapat kesalahan penulisan kata depan, seperti kemana-mana (1), dimana-mana (2), dinegara (3), diantara (4), kedalamnya (5), dan ketempat (6). Kesalahan penulisan kata depan seperti (1)—(6) terjadi, antara lain, karena siswa kurang dapat membedakan kata depan dari awalan. Untuk mengatasi keraguan itu, siswa dapat memanfaatkan kiat praktis berikut.
Bentuk di- sebagai awalan biasanya (1) membentuk kata kerja dan berpasangan dengan kata kerja berawalan meng- dan (2) tidak dapat disubstitusi dengan dari, sedangkan di sebagai kata depan (1) selalu diikuti kata benda yang menyatakan ‘arah’ atau ‘tempat’, (2) tidak membentuk kata kerja, dan (3) dapat disubstitusi dengan kata depan dari.
Bentuk ke sebagai kata depan (1) selalu diikuti kata benda yang menyatakan ‘arah’ dan (2) dapat disubstitusi dengan dari. Bentuk ke- sebagai awalan (1) membentuk kata benda dari kata lain dan (2) tidak dapat disubstitusi dengan dari. Selain ciri-ciri di atas, dari segi penulisan di dan ke sebagai kata depan dituliskan terpisah dari kata yang mengikutinya, sedangkan di- dan ke- sebagai awalan ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya.
Data (1)—(6) yang tidak sesuai dengan kaidah penulisan kata depan dapat diperbaiki sepeti (1a)—(6a).
(1a) Narkoba juga merupakan obat yang mudah dipakai dan dibawa ke mana-mana.

(2a) Pada era sekarang ini di mana-mana banyak ditemukan jenis-jenis narkoba.

(3a) Kita semua merasakan bahwa kemiskinan di negara kita semakin merajalela.

(4a) Mereka harus memilih salah satu di antara dua pilihan.

(5a) Dalam pergaulan bebas tidak tertutup kemungkinan kita akan terjerumus ke dalamnya.

(6a) Mereka yang sudah kecanduan akan dibawa ke tempat rehabilitasi.

2.5 Penulisan Partikel pun
Dalam data juga ditemukan penulisan partikel pun yang tidak sesuai dengan kaidah penulisan. Berikut contohnya.
(1) … bahkan di pelosok desapun sangat banyak ditemukan pemakai narkoba.

(2) Begitupun para artis ….
(3) … di kota-kota besarpun kini sudah menjamur.
(4) Kalau duduk di samping orang merokok, kitapun ….
(5) … gaya hidup manusiapun mulai berubah.

Berdasarkan kaidah, penulisan partikel pun ada yang dirangkai dan ada yang dipisah dengan kata yang di depannya. Jika pun sudah dianggap sebagai ungkapan yang padu, pun ditulis serangkai. Hal itu tampak, misalnya, pada kata walaupun, biarpun, dan bagaimanapun. Akan tetapi, jika partikel pun telah memiliki makna, yaitu ‘juga’, penulisannya dipisah dengan kata yang mendampinginya.
Pada contoh (1)—(5) tampak bahwa partikel pun pada desapun (1), begitupun (2), besarpun (3), kitapun (4), dan manusiapun (5) bukan merupakan ungkapan yang padu seperti walaupun, biarpun, dan bagaimanapun. Partikel pun pada (1)—(5) sudah memiliki makna, yaitu ‘juga’ sehingga penulisannya harus dipisah dengan kata yang di depannya. Oleh karena itu, penulisan pun seperti (1)—(5) tidak sesuai dengan kaidah. Perbaikan data (1)—(5) dapat diperbaiki seperti (1a)—(5a).
(1a) … bahkan di pelosok desa pun sangat banyak ditemukan pemakai narkoba.

(2a) Begitu pun para artis ….
(3a) … di kota-kota besar pun kini sudah menjamur.
(4a) Kalau duduk di samping orang merokok, kita pun ….
(5a) … gaya hidup manusia pun mulai berubah.

2.6 Penulisan Singkatan
Singkatan adalah bentuk bahasa yang dipendekkan, dari kata atau kelompok kata, yang terdiri atas satu huruf atau lebih. Dalam karya tulis yang dijadikan sumber data ditemukan penulisan singkatan seperti berikut.
(1) Keinginan mencuri, menodong, dll akan timbul jika pemakai tidak mempunyai uang untuk membeli narkoba.

(2) … suatu kenikmatan dng keuntungan besar.
(3) … utk bisa hidup mandiri dan menjadi orang sukses.
(4) Sebelum terjerumus pada barang haram tsb, kita sebagai generasi muda hendaknya berhati-hati dlm bergaul.

(5) Kebanyakan di antara mereka memeras orang tuanya, mencuri, dsb hanya demi obat itu.


Singkatan seperti (1)—(5) banyak mewarnai karya tulis siswa yang dijadikan sumber data. Seharusnya singkatan seperti itu tidak muncul dalam sebuah karya tulis. Karya tulis, apalagi yang bersifat ilmiah, menuntut kebakuan yang tinggi. Walaupun tercantum dalam kaidah ejaan, pemakai bahasa (siswa) tidak dianjurkan menyingkat sebuah kata, terutama dalam tulisan yang bersifat resmi.
Kembali pada data (1)—(5), menurut kaidah, singkatan umum, seperti (1)—(5), yang terdiri atas tiga huruf atau lebih penulisannya diikuti satu tanda titik. Apabila dicermati, singkatan pada data (1)—(5), seperti dll (1), dng (2), utk (3), dlm (4), dan dsb (5), tidak diikuti tanda titik. Oleh karena itu, penulisan singkatan pada (1)—(5) tidak sesuai dengan kaidah penulisan singkatan dan dapat diperbaiki seperti (1a)—(5a).
(1a) Keinginan mencuri, menodong, dll. akan timbul jika pemakai tidak mempunyai uang untuk membeli narkoba.

(2a) … suatu kenikmatan dng. keuntungan besar.
(3a) … utk. bisa hidup mandiri dan menjadi orang sukses.
(4a) Sebelum terjerumus pada barang haram tsb., kita sebagai generasi muda hendaknya berhati-hati dlm. bergaul.

(5a) Kebanyakan di antara mereka memeras orang tuanya, mencuri, dsb. hanya demi obat itu.

Dalam karya tulis ilmiah yang menuntut tingkat kebakuan yang tinggi, penggunaan singkatan harus dihindari. Untuk itu, data (1)—(5) dan (1a)—(5a) dapat diperbaiki seperti (1b)—(5b).
(1b) Keinginan mencuri, menodong, dan lain-lain akan timbul jika pemakai tidak mempunyai uang untuk membeli narkoba.

(2b) … suatu kenikmatan dengan keuntungan besar.
(3b) … untuk bisa hidup mandiri dan menjadi orang sukses.
(4b) Sebelum terjerumus pada barang haram tersebut, kita sebagai generasi muda hendaknya berhati-hati dalam bergaul.

(5b) Kebanyakan di antara mereka memeras orang tuanya, mencuri, dan sebagainya, hanya demi obat itu.



2.7 Penulisan Kata Ulang

Kata ulang adalah bentuk kata yang dihasilkan dari proses perulangan dan dituliskan secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung (-). Walaupun kaidahnya sudah jelas, masih ditemukan juga kesalahan penulisan kata ulang pada karya tulis siswa yang dijadikan sumber data. Berikut contohnya.
(1) … ada yang di iming imingi dengan keuntungan besar.
(2) Ini terlihat pada produk 2x buatan Indonesia yang belum begitu diminati.

(3) … seperti kata2 yang penuh sumpah serapah.
(4) Mereka bisa mempengaruhi anakxx di bawah umur.
(5) … merupakan obat 2 an terlarang.

Pada data (1) terdapat kata ulang di iming imingi yang merupakan perulangan berimbuhan, yaitu kata ulang yang mendapat awalan dan akhiran. Kesalahan penulisan kata ulang pada data (1) adalah (1) tidak digunakannya tanda hubung dan (2) penulisan awalan di- pada kata iming yang pertama yang tidak sesuai dengan kaidah. Kata dasar kata ulang di iming imingi adalah iming-iming, ditulis dengan menyertakan tanda hubung (-) di antaranya. Kata dasar tersebut kemudian mendapat awalan dan akhiran di- … -i. Sesuai dengan kaidah, penulisan kata ulang data (1) yang benar adalah awalan di- ditulis serangkai dengan iming yang pertama dan di antara iming pertama dan kedua diberi tanda hubung (-), seperti terlihat pada (1a).
(1a) … ada yang diiming-imingi dengan keuntungan besar.

Data (2)—(5) juga memperlihatkan kesalahan penulisan kata ulang. Data tersebut akan menjadi benar apabila digunakan pada penulisan yang bersifat pribadi. Akan tetapi, jika digunakan pada karya tulis ilmiah, model penulisan kata ulang seperti (2)—(5) dapat mengurangi kadar keilmiahan sebuah karya tulis. Untuk itu, penulisan seperti (2)—(5) tidak dianjurkan dalam penulisan yang bersifat ilmiah (resmi) karena penulisan kata ulang seperti itu tidak sesuai dengan kaidah penulisan kata ulang.
Kata ulang yang terdapat pada (2)—(4), yaitu produk 2x (2), kata2 (3), anakxx (4) adalah perulangan dasar, yang menurut kaidah ditulis dengan lengkap, tanpa tanda apa pun, dengan menempatkan tanda hubung di antara kedua kata dasar itu. Sementara itu, kata ulang obat 2 an (5) merupakan perulangan berimbuhan (sama dengan data 1), yaitu imbuhan akhiran. Menurut kaidah, penulisannya juga harus lengkap dan disertai dengan tanda hubung (-) di antara unsur-unsur yang diulang. Dengan demikian, data (2)—(5) dapat diperbaiki seperti (2a)—(5a).
(2a) Ini terlihat pada produk-produk buatan Indonesia yang belum begitu diminati.

(3a) … seperti kata-kata yang penuh sumpah serapah.
(4a) Mereka bisa mempengaruhi anak-anak di bawah umur.
(5a) … merupakan obat-obat an terlarang.

2.8 Penulisan Kata Baku
Sebuah kata dapat dinyatakan baku apabila kata tersebut digunakan sebagian besar masyarakat dalam situasi pemakaian bahasa yang bersifat resmi dan menjadi rujukan norma dalam penggunaannya (Latief ed., 2001:15). Contoh kesalahan pemakaian kata baku berikut ditemukan pada karya tulis siswa yang dijadikan sumber data.
(1) Kita tidak akan bisa merubah takdir, tetapi kita bisa merubah nasib dengan jalan berusaha dan berdoa.

(2) Kalau saja pemerintah mau perduli dengan keadaan rakyatnya, kemiskinan itu bisa ditanggulangi.

(3) … dengan hukuman agar mereka tahu gimana rasanya hidup di penjara.

(4) Kami menghimbau kepada aparat keamanan agar mengadakan patroli di tempat-tempat hiburan.



Contoh (1)—(4) berkaitan dengan pemakaian kata-kata baku. Baku, menurut Ali et al., 1995:82, adalah tolok ukur yang berlaku untuk kuantitas yang ditetapkan berdasarkan kesepakatan standar. Bertitik tolak dari definisi itu, kata baku adalah kata yang dijadikan tolok ukur yang ditetapkan berdasarkan kesepakatan. Baku tidaknya sebuah kata dapat dicermati dalam kamus (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Kata-kata seperti merubah (1), perduli (2), gimana (3), dan menghimbau (4) adalah kata-kata yang tidak baku. Dalam Ali et al., 1995, tidak termuat kata merubah, yang ada kata mengubah. Berkaitan dengan contoh (1), buku-buku tata bahasa menyebutkan dalam bahasa Indonesia tidak dikenal awalan mer-, tetapi awalan meng-. Sejalan dengan itu, kata turunan yang muncul dari kata dasar ubah adalah mengubah, bukan merubah. Demikian juga, kata gimana (3) dalam Ali et al., 1995 dijelaskan sebagai ragam cakap. Karena sumber data adalah penulisan karya tulis ilmiah yang menuntut kadar kebakuan yang tinggi, kata-kata seperti itu tidak layak digunakan dalam ragam resmi. Kata perduli (2) dan menghimbau (4) juga bukan merupakan kata baku. Kata baku untuk kata perduli dan menghimbau adalah peduli dan mengimbau. Contoh (1)—(4) dapat diperbaiki menjadi (1a)—(4a) berikut.
(1a) Kita tidak akan bisa mengubah takdir, tetapi kita bisa mengubah nasib dengan jalan berusaha dan berdoa.

(2a) Kalau saja pemerintah mau peduli dengan keadaan rakyatnya, kemiskinan itu bisa ditanggulangi.

(3a) … dengan hukuman agar mereka tahu bagaimana rasanya hidup di penjara.

(4a) Kami mengimbau kepada aparat keamanan agar mengadakan patroli di tempat-tempat hiburan.



3. Simpulan
Tulisan ini membahas pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar, khususnya penulisan kata baku, dengan sumber data karya tulis siswa kelas 3 SMA Parisada Perhotelan Amlapura, Bali.
Seperti yang telah diuraikan pada Bagian 2, masih tampak kesalahan penulisan kata, seperti penulisan (a) kata serapan (jaman, ijin), (b) gabungan kata (menyalah gunakan), (c) awalan (di hukum, di tebak), (d) kata depan (preposisi) (kemana-mana, diantara), (e) partikel pun (desapun, besarpun), (f) singkatan (dll, utk), (g) kata ulang (produk2x, kota2), dan (h) kata baku (merubah, perduli). Terjadinya kesalahan penulisan kata seperti itu memperlihatkan kaidah penulisan kata pada karya tulis siswa kelas 3 SMA Parisada Perhotelan Amlapura, Bali belum diterapkan secara maksimal oleh siswa.








DAFTAR PUSTAKA


Ali, Lukman et al. 1991. Bahan Penyuluhan Bahasa Indonesia di Irian Jaya. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

---------------. 1995. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Alwi, Hasan et al. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Arifin, Zainal dan S. Amran Tasai. 2006. Cermat Berbahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Jakarta: Akademika Pressindo

Budiasa, I Nengah. 2005 “Analisis Kesalahan Pemakaian Bahasa Indonesia pada Naskah Pidato Pejabat Eselon IV di Lingkungan Provinsi Bali”. Denpasar: Balai Bahasa.

Hakim et al. 1991. “Ejaan”. Dalam Bahan Penyuluhan Bahasa Indonesia di Irian Jaya. (Lukman Ali ed.) Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengem-bangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Latief, A. (ed.). 2001. Bahan Penyuluhan Bahasa Indonesia Ejaan. Jakarta: Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional.

Sugono, Dendy (ed.). 2006a. Buku Praktis Bahasa Indonesia Jilid 1. Jakarta: Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional.

---------------------. 2006b. Buku Praktis Bahasa Indonesia Jilid 2. Jakarta: Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional.

Tidak ada komentar: